Oleh: depuguh | Januari 7, 2012

Sebuah Makna Inklusif

Kita sebagai seorang pendidik seringkali kurang menyadari akan akibat dari kata-kata yang kita berikan kepada anak-anak didik kita. Seringkali kita memberikan predikat negatif kepada mereka dengan sebutan, “murid bodoh, nakal” dan sebagainya. Akibat dari stereotip negatif tersebut, akhirnya anak didik kita benar-benar menjadi bodoh dan nakal.

Parahnya, ketika mereka sampai di rumah, mereka mendapatkan perlakuan yang sama dari orang tua mereka. Anak-anak yang mendapatkan cap yang buruk tersebut menjadi minder, kehilangan motivasi, terkadang hal ini membuat mereka terisolasi dan terpinggirkan.

Kita masih ingat dengan kasus Mohamad Ilham asal Godanglegi yang harus dirantai oleh orangtuanya karena mereka menganggap Ilham bocah nakal dan hiperaktif. Dan akhirnya bocah lima tahun tersebut kakinya diamputasi karena terbakar. Ilham adalah korban terbesar dari sebuah stereotif dan pelabelan.

Stereotif negatif juga bisa memunculkan kembali sikap diskriminasi dalam dunia pendidikan. Lihatlah saat ini kita banyak menjumpai beberapa sekolah yang membagi siswanya ke dalam kelas-kelas unggulan dan khusus. Kelas unggulan dihuni oleh siswa-siswa pandai. Dan kelas-kelas khusus dihuni oleh siswa yang tidak memiliki kemampuan akademik yang bagus atau nakal. Bisa ditebak fasilitas dan kualitas pengajaran yang diberikan untuk kedua kelas tersebut sangat berbeda jauh.

Pada tahun 2006, bertempat di Padang, pemerintah Indonesia dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan menyelenggarakan simposium Internasional Pendidikan Inklusi. Simposium tersebut menghasilkan salah satu rekomendasi perlunya mengimplementasikan layanan pendidikan inklusif dan ramah anak

Meskipun sudah didengungkan sejak lama, namun praktik pendidikan inklusif di lapangan masih jauh dari harapan. Paradigma lama atau konvensional dalam memandang siswa masih melekat di kepala kita. Di beberapa daerah masih banyak di jumpai diskriminasi

Inklusi adalah sebuah filosofi pendidikan dan sosial. Mereka yang percaya inklusi
meyakini bahwa semua orang adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan masyarakat, apapun perbedaan mereka. Dalam pendidikan ini berarti bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun ketidak mampuan mereka, latar belakang sosial-ekonomi, suku, latar belakang budaya atau bahasa, agama atau jender, menyatu dalam komunitas sekolah yang sama.

Filosofi Inklusif adalah mengenai; kepemilikan, keikutsertaan dalam komunitas sekolah dan keinginan untuk dihargai. Lawan katanya adalah eksklusif yang berarti penolakan, keterbatasan dan ketidakberdayaan dan sering mengarah kepada frustasi dan kebencian. Inklusi dan Pendidikan Inklusif tidak mempermasalahkan apakah anak dapat mengikuti program pendidikan, namun melihat pada guru dan sekolah agar dapat mengadaptasi program pendidikan bagi kebutuhan individu.

Bahasa negatif dan merendahkan akan menghasilkan citra negatif dan juga merendahkan. Kata-kata sangatlah penting, para guru dan orang tua harus memastikan kata yang digunakan tidak menyinggung atau memancing stereotip negatif. Bahasa bisa membentuk ide, persepsi dan sikap seseorang. Tentunya pemberian label dan stereotif negatif sangatalah bertentangan dengan filosofi iklusif.

Bagaimanapun juga, perilaku positif dan penuh hormat dapat dibentuk melalui penggunaan kata secara bijaksana, yang menjelaskan secara obyektif tanpa maksud menghakimi.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.