Oleh: depuguh | Juni 24, 2011

Cinta, Makna dan Pengajaran

(Sebuah refleksi menyambut hari pendidikan)

Para analisis telah memprediksi, bahwa suatu saat nanti dunia akan menjadi sebuah perkampungan global. Ternyata hasil analisis mereka benar adanya. Kemampuan transportasi, komunikasi melebihi prediksi banyak orang. Manusia dengan mudah menjalankan komunikasi, berpindah tempat, hingga menggerakan dunia bisnis. Pendek kata, perkampungan global membuat semuanya menjadi serba instan. Dan kita tahu, perkampungan global lahir dari rahim globalisasi.

Perkampungan global telah menjamah dunia anak-anak –seperti, sekolah tempat mereka belajar. Anak-anak kita sudah terbiasa dengan telepon genggam. Mereka juga mempunyai kecenderungan lebih suka belajar dengan TV daripada dengan gurunya. Lebih miris lagi, sebagian dari anak-anak kita telah memanfaatkan teknologi, seperti situs jejaring sosial untuk menjalankan bisnis prostitusi.

Sekolah telah menjadi perkampungan global. Kondisi ini membawa ketakutan yang tersendiri bagi para pendidik -terutama terhadap masa depan mereka. Kita sebagai pendidik dibuat was-was. Tidak berhenti di situ. Para pendidik semakin dibuat naik adrenalinnya dengan tuntutan dan ekspektasi yang besar dari masyarakat dan pemerintah melalui proyeknya yang bernama UNAS.

Duapuluh tahun yang lalu, para orang tua di Amerika ketika ditanya tentang harapan mereka terhadap anak-anak mereka, mayoritas mereka menjawab ingin sekali mereka mempunyai anak-anak dengan kemampuan yang baik dalam bidang logika-ilmiah (Matematika, Fisika dan Biologi). Namun setelah sepuluh tahun, ketika di Amerika merebak kejahatan para remaja, seperti tawuran, pembunuhan antar teman di kampus dan hamil diluar nikah, para orang tua akhirnya berpikir ulang tentang masa depan buah hati mereka. Saat ini, mereka hanya ingin anak-anaknya bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

Jika negara para pencetus teori perkampungan global sudah mulai menyadarinya, maka sikap kita tentu harus ikut berubah. Dalam dunia yang serba tidak menentu ini, seorang pendidik dituntut untuk memiliki kesabaran yang tinggi. Sabar tidak hanya bermakna bertahan –dalam menghadapi perkembangan peserta didik, namun lebih dari itu seorang pendidik harus bersabar dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dengan terus belajar tanpa henti. Inilah makna sabar yang benar.

Kesabaran ini tidak akan pernah terwujud tanpa memiliki rasa cinta. Kecintaan kita terhadap peserta didik, profesi dan ilmu pengetahuan. Jangan berharap kita bisa bersabar, jika kita tidak memiliki rasa cinta terhadap profesi kita. Dan seorang pendidik akan menjadi pasif di kelas jika ia tidak memiliki rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan. Bagaimana bisa brsabar jika ia tidak memiliki ilmu?

Isi yang Bermakna

Ilmu pengetahuan yang kita berikan kepada seserta didik haruslah bermakna. Bermakna tidak hanya bagi dirinya sendiri namun bermakna bagi orang lain. Kebermaknaan bisa kita artikan sebagai ketentraman, kebermanfaatan, dan keberlangsungan hidup dalam jangka panjang. Kebermaknaan hanya akan bisa diberikan oleh seorang pendidik yang memiliki skill, ilmu yang luas dan tentunya pendidik yang dekat dengan Tuhannya.

Ribuan tahun yang lalu, kita memiliki ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Haitsam dan masih banyak yang lain. Mereka selain ilmuan juga seorang pendidik bagi jutaan umat manusia. Mereka menyakini, ilmu akan menyesatkan dan tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan asas. Asas tersebut adalah spiritualitas. Selain memiliki kemampuan dalam bidang kedokteran, matematika dan ilmu alam, mereka juga mempunyai kemampuan bidang agama dan filsafat. Inilah yang membedakan antara ilmuwan-pendidik Timur dan Barat sekuler.

Kemudian kita harus membuang pemikiran meracuni yang bernama ‘homogenitas’. Pemikiran homogenitas menganggap semua anak adalah sama. Pada haketkatnya tidak ada manusia di dunia ini yang sama. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Saatnya kita berahli pada pemikiran heteregonitas. Pemikiran tersebut akan merubah cara pandang kita terhadap siswa dan bagaimana cara kita memperlakukan mereka di kelas.

Akhirnya, saya akan menutup catatan kecil ini dengan sebuah pertanyaan dari Stephen R Covey “Kita hanya mempunyai satu kesempatan dalam mempersiapkan siswa untuk masa depan yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun dari kita. Apa yang akan kita lakukan dengan satu kesempatan ini?.”

@puguh sudarminto


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.