Oleh: depuguh | April 11, 2011

Anakku, Retardasi Mental (Bag 2 Habis)

Setelah kita mengenal sekilas anak dengan kekhususan retardasi mental, dalam artikel kedua ini, Saya akan memaparkan karakteristik beserta dampaknya bagi orang tua. Anak retardasi mental (masyarakat luas lebih sering menyebut istilah tersebut dengan tunagrahita) mempunyai beberapa karakteristik. Ada beberapa karakteristik umum yang dapat kita pelajari, sebagai berikut :

1. Keterbatasan Intelegensi

Intelegensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempelajari informasi dan ketrampilan-ketrampilan menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi-situasi kehidupan baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berpikir abstrak, kreatif, dapat menilai secara kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan-kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Mereka memiliki kekurangan dalam semua hal tersebut. Kapasitas belajar anak terutama yang bersifat abstrak seperti belajar berhitung, menulis, dan membaca juga terbatas, kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung belajar dengan membeo.

2. Keterbatasan Sosial

Disamping memiliki keterbatasan intelegensi, anak retardasi mental juga memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu mereka memerlukan bantuan.

3. Keterbatasan Fungsi-fungsi Mental Lainnya

Anak retardasi mental memerlukan waktu lebih lama untuk melaksanakan reaksi pada situasi yang baru dikenalnya. Mereka memperlihatkan reaksi terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin yang secara konsisten dialaminya dari hari ke hari. Anak retardasi mental tidak dapat menghadapi sesuatu kegiatan atau tugas dalam jangka waktu lama.

Mereka juga memiliki keterbatasan dalam penguasaaan bahasa. Mereka bukannya mengalami kerusakan artikulasi akan tetapi pusat pengolahan (perbendaharaan kata yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya). Karena itu mereka membutuhkan kata-kata konkrit dan yang sering didengarnya. Selain itu perbedaan dan persamaan harus ditunjukkan secara berulang-ulang. Latihan-latihan sederhana seperti mengajarkan konsep besar dan kecil, keras dan lemah, pertama, kedua, dan terakhir, perlu menggunakan pendekatan yang konkrit.


Dampak

Orang yang paling banyak menanggung beban akibat kekhususan yang dialami anak ini adalah orang tua dan keluarga anak tersebut. Keluarga anak retardasi mental berada dalam resiko yang berat. Saudara-saudara anak tersebut pun akan menghadapi hal-hal yang bersifat emosional, seperti rasa depresi, malu dan prustasi.

Saat yang kritis adalah ketika keluarga itu pertama kali menyadari bahwa anak tersebut tidak normal seperti yang lain. Jika anak tersebut menunjukkan gejala-gejala kelainan fisik (misalnya mongolisme) maka kelainan anak dapat segera diketahui sejak anak dilahirkan. Tetapi, jika anak tersebut tidak mempunyai kelainan fisik., maka orang tua hanya akan mengetahui dari hasil penelitian. Cara menyampaikan hasil penelitian Sangatlah penting. Kebanyakan orang tua mungkin menolak kenyataan atau menerima dengan beberapa persyaratan tertentu.

Dibutuhkan sebuah proses untuk menyadarkan keluarga. Mereka harus memahami, bahwa sesungguhnya semua anak pada hakekatnya dilahirkan berbeda-beda. Orang tua juga harus meyadari setiap kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap anak. Tanpa memiliki keasadaran dan tanggung jawab yang tinggi, orang tua tidak akan mampu menjadi partner yang baik bagi anak-anak yang memiliki banyak keterbatasan tersebut, terutama dalam mendampingi pertumbuhan mereka.

Kemandirian Anak

Menumbuhkan kemandirian seorang anak sejak usia dini sangatlah penting, karena dengan memiliki kemandirian sejak dini, anak akan terbiasa mengerjakan kebutuhannya sendiri. Kemandirian dapat diartikan dengan sikap yang ditandai dengan kepercayaan diri dan terlepas dari ketergantungan orang lain. Salah satu tujuan layanan pendidikan anak retardasi mental adalah berkaitan dengan kemandirian.

Anak retardasi mental mengalami hambatan dalam fungsi kecerdasan, maka target kemandiriannya harus dirumuskan sesuai dengan potensi yang mereka miliki, sehingga dapat dikatakan bahwa mandiri bagi mereka adanya kesesuaian antara kemampuan yang aktual dengan potensi yang mereka miliki. Pencapaian kemandirian tidak dapat diartikan sama dengan pencapaian kemandirian anak normal pada umumnya.

Beberapa upaya untuk mencapai ciri kemandirian yang sesuai dengan potensi yang dimiliki, diantaranya; menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, menumbuhkan kemampuan menentukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri, menumbuhkan kemampuan mengendalikan emosi, materi pelajaran bina diri, dan keterampilan.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.