Oleh: depuguh | Desember 20, 2009

Ridho; Penyandang Autisme, atau ADHD?*

Seperti yang kuduga sebelumnya, bahwa hari Sabtu ini, banyak murid-murid kami yang tidak masuk. Sebagian besar anak-anak –terutama orang tua mereka memilih tidak menyekolahkan anaknya, karena hari ini adalah hari “kecepit”. Nanggung kalau masuk. Tapi, tidak bagi orang tua Ridho. Orang tua anak tersebut tetap menyekolahkan anak yang paling disayanginya.

Hampir saya membuat kesimpulan yang salah, bahwa hari ini kelas saya akan kosong melompong. Bangku-bangku jadi tak bertuan, namun setelah sepuluh menit bel berbunyi, ia datang. Jadilah ia satu-satunya murid saya yang hadir. Seperti biasanya, ia berlarian mengucapkan salam sambil mencium tanganku, kemudian ia masuk ke kelas. Ia tanya satu-persatu teman-temannya. Anak itu mungkin berpikir, “kenapa hari ini kok teman-temannya tidak ada?,”. “Pak, mana Siti?, Pak mana Uus?,” tanyanya singkat. Saya hanya menjawab, “Siti dan Uus tidak masuk.” Baca Lanjutannya…

dr-warsitoDr. Warsito adalah salah satu dari “50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus Akhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” Versi Majalah Gatra (Mei 2008).

Di dunia akademisi Internasional, Dr. Warsito dikenal sebagai pioneer dalam teknologi tomografi, yaitu teknologi untuk memindai berbagai macam objek dari tubuh manusia, proses kimia, industri perminyakan, reactor nuklir hinga perut bumi.

Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetric 4D yangwarsitosepuluh-orang dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi temuannya telah digunakan oleh NASA (Lembaga Antarikas Amerika Serikat) untuk memindai obyek dielektrika pada pesawat ulang-alik selama misi ke antariksa.

Menurut jurnal yang diterbitkan oleh American Chemistry Society, teknologi temuan Dr. Warsito diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi berbagai bidang dari energi, proses kimia , kedokteran hingga nano teknologi. Baca Lanjutannya…

Oleh: depuguh | Oktober 16, 2009

Melukis di Awan

images Pemuda itu menatap tajam jendela bus yang tengah membawanya ke kota Surabaya. Terpaku, merenungi orang-orang yang telah ia tinggalkan; terutama laki-laki tua, yang telah memberikan asupan motivasi agar tetap bersemangat menuntut ilmu di kota besar. Hatinya sedikit tenang, karena laki-laki tua itu tidak sendirian. Masih ada yang seseorang yang menjaganya. Harapannya hanya tertuju pada adiknya. Ia berharap, adiknya tersebut mampu menjaga, dan menemani menjemput hari demi hari dari umur yang tersisa dari laki-laki itu. Tidak sadar, lamunannya berhenti, seiring dengan rasa kantuk yang menghinggap padanya.

Sebuah orkestra jalanan mengalun dengan merdu, hingga membuat matanya terpejam. Seorang remaja dengan anak kecil berdiri di tengah-tengah penumpang. Dengan bantuan alat musiknya, mereka berdua asyik melantunkan sebuah lagu. Nurma, dan Aris adalah nama dua pengamen cilik yang membuat laki-laki itu tertegun. Tidak terasa, ada rasa ketertarikan dari dia untuk mengenal lebih jauh mereka berdua.

Dari perkenalan singkat di kendaran tersebut, sampailah ia berada di sebuah pemukiman kumuh, tempat mereka berdua tinggal. Dialog kecil dengan ibu Siti, si empu rumah, membuat hatinya tergerak untuk membantu orang-orang disekeliling ibu Siti, terutama para remaja, dan anak-anak yang tinggal di lingkungan kumuh; di bawah jembatan tol yang mengubungkan kota Surabaya dan Malang. Di akhir percakapan, ia berjanji kepada ibu Siti, bahwa ia kelak akan kembali ke tempat itu.

Ia menunaikan janjinya. Dengan bantuan teman-teman satu kampusnya, Reza berhasil mendirikan rumah belajar As-Syifa’. Sebuah rumah belajar yang memberikan pendidikan non formal bagi anak-anak jalanan. Di antara murid rumah belajar As-Syifa’ terdapat Aris –seorang penyandang Autism Savant Syndrom; pengidap autism yang memiliki kemampuan lebih. Pergulatan Reza, dan teman-temannya dalam mengentaskan anak-anak yang terabaikan, merupakan sepenggal kisah fiksi dari “Melukis di Awan (MdA)” (http://myjourney2.multiply.com). Di sana ada perjuangan, keteguhan, kesabaran, dan cinta.

Malang, kala embun pagi mulai menetes. 6/10/09.

Danladi Mamman **

girl negeriaEarly marriage is more common in the northern parts of Nigeria. Here, many parents prefer to marry off their daughters at a very young age, for cultural and economic reasons. The rate of illiteracy among females is higher here than in the south. Recent studies have highlighted improved primary and secondary enrolment rates for girls. Girls who have dropped out of school, or not been enrolled in the first place, are likely to be pushed into early marriage. Marriage usually prevents them from starting or resuming their education.

Response to the problem

In recent years, states in northern Nigeria, such as Niger and Bauchi states, have enacted laws prohibiting the withdrawal of girls from school for marriage, but this is not being enforced. The Federal Government of Nigeria and the 19 Northern States Government have introduced initiatives to tackle early marriage and its impact on education (e.g.public sensitisation on girls’ reproductive health and rights and the importance of allowing girls to complete senior secondary school; strengthening links between schools and communities to improve girls’ retention in school; changing girls’ attitudes towards education; and establishing more schools for females only). Some initiatives have yielded positive results: married girls/single mothers who had dropped out have restarted school, and parents have started to allow girls to complete senior secondary school before marriage and even proceed to higher education. The Child Rights Act was enacted in 2003 by the Federal Government and many state governments are following suit. It states that every child, irrespective of gender and disability among others, has the right to good quality education and to complete his/her education. The Universal Basic Education programme was also established, providing for nine years of compulsory education. All levels of government and some non-governmental organisations are taking steps to address early marriage and encourage children to complete school. This includes the re-establishment of guidance and creation of gender sensitive curricula, making school environments conducive for learning, and involving communities and traditional rulers in Baca Lanjutannya…

Oleh: depuguh | Agustus 29, 2009

Semarak Olimpiade dan Science Expo 2009

n1818218901_4733Alhamdulillah!. Lega rasanya. Itulah sebuah perasaan yang saya ucapkan dalam hati. Dengan segala keterbatasan, dan kekurangan di sana-sini, akhirnya perhelatan Olimpiade dan Science Expo 2009 dapat selesai dengan sukses :) . Yayasan Pengembagan SDM IPTEK sebagai penyelenggara utama telah berusaha memberikan kontribusi secara optimal dalam dunia pendidikan, science dan sosial. Olimpiade dan Science Expo merupakan salah satu bentuk kontribusi tersebut.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori