Pemuda itu menatap tajam jendela bus yang tengah membawanya ke kota Surabaya. Terpaku, merenungi orang-orang yang telah ia tinggalkan; terutama laki-laki tua, yang telah memberikan asupan motivasi agar tetap bersemangat menuntut ilmu di kota besar. Hatinya sedikit tenang, karena laki-laki tua itu tidak sendirian. Masih ada yang seseorang yang menjaganya. Harapannya hanya tertuju pada adiknya. Ia berharap, adiknya tersebut mampu menjaga, dan menemani menjemput hari demi hari dari umur yang tersisa dari laki-laki itu. Tidak sadar, lamunannya berhenti, seiring dengan rasa kantuk yang menghinggap padanya.
Sebuah orkestra jalanan mengalun dengan merdu, hingga membuat matanya terpejam. Seorang remaja dengan anak kecil berdiri di tengah-tengah penumpang. Dengan bantuan alat musiknya, mereka berdua asyik melantunkan sebuah lagu. Nurma, dan Aris adalah nama dua pengamen cilik yang membuat laki-laki itu tertegun. Tidak terasa, ada rasa ketertarikan dari dia untuk mengenal lebih jauh mereka berdua.
Dari perkenalan singkat di kendaran tersebut, sampailah ia berada di sebuah pemukiman kumuh, tempat mereka berdua tinggal. Dialog kecil dengan ibu Siti, si empu rumah, membuat hatinya tergerak untuk membantu orang-orang disekeliling ibu Siti, terutama para remaja, dan anak-anak yang tinggal di lingkungan kumuh; di bawah jembatan tol yang mengubungkan kota Surabaya dan Malang. Di akhir percakapan, ia berjanji kepada ibu Siti, bahwa ia kelak akan kembali ke tempat itu.
Ia menunaikan janjinya. Dengan bantuan teman-teman satu kampusnya, Reza berhasil mendirikan rumah belajar As-Syifa’. Sebuah rumah belajar yang memberikan pendidikan non formal bagi anak-anak jalanan. Di antara murid rumah belajar As-Syifa’ terdapat Aris –seorang penyandang Autism Savant Syndrom; pengidap autism yang memiliki kemampuan lebih. Pergulatan Reza, dan teman-temannya dalam mengentaskan anak-anak yang terabaikan, merupakan sepenggal kisah fiksi dari “Melukis di Awan (MdA)” (http://myjourney2.multiply.com). Di sana ada perjuangan, keteguhan, kesabaran, dan cinta.
Malang, kala embun pagi mulai menetes. 6/10/09.