“Kesannya selama ini, kalau orang sampai makan gaplek itu kok miskin banget,”
(Ahmad Subagio, M.Agr., Ph.D)
Indonesia merupakan produsen ketela atau singkong terbesar ke lima di dunia. Sayangnya, di Indonesia sendiri singkong belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Masyarakat kita masih memanfatkan ketela untuk sumber pangan alternatif menggantikan
beras. Disamping itu, Singkong masih identik dengan makanan kelas dua. Di era semaju ini, bila masih dijumpai orang makan singkong, berarti orang tersebut “primitif” atau “miskin”. Stereotip negatif tersebut masih begitu melekat.
Dr Ahmad Subagio mencoba merubah stereotip tersebut. Mulai tahun 2004, Ahmad Subagio snagat intens meneliti singkong. Meski sering mendapatkan cibiran dari orang lain, ia masih percaya diri dengan menjadikan produk panganan yang tidak popular tersebut menjadi obyek kajianya. Menurut Subagio, kebanyakan orang memandang, bahwa singkong mempunyai nilai jual yang rendah. Meneliti singkong sama saja dengan membuang-buang waktu, jadi menurut banyak anggapan orang, apa yang ia kerjakanan saat ini hanyalah akan sia-sia belaka. Bahkan tidak hanya itu saja, seorang calon presiden Indonesia pun pernah mencibirnya.
Kegigihan Ahmad Subagio membuahkan hasil. Setelah sekian lama meneliti singkong, akhirnya Ahmad Subagio berhasil membuat modifikasi singkong menjadi sebuah tepung tanpa aroma dan rasa singkong. Tepung tersebut ia namai dengan Mocaf (Modified Cassava Flour). Hasil penemuanya ini diyakini merupakan penemuan pertama di dunia. Ahmad Subagiopun mulai dikenal banyak orang. Dan masyarakat tidak lagi memandang sebela mata singkong. Baca Lanjutannya…





Komentar