Oleh: depuguh | Februari 7, 2010

Dr Ing Suhendra dan I-4

Dr Ing suhendra dan IP-4

Dr Ing Suhendra

Tak banyak yang mengenal nama ini: Hadi Susanto. Ia tak beredar di Tanah Air sejak awal milenium baru, hampir sepertiga dari umurnya yang baru 29 tahun. Apalagi untuk mendengar reputasinya sebagai salah seorang matematikawan muda yang sedang memahat nama di jajaran legenda pakar matematika dunia.

Bahkan para pembaca novel superlaris Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy pun tak akan menduga bahwa Hadi Susanto yang menulis kata pengantar menarik di novel itu adalah Hadi yang di umur 27 tahun meraih gelar doktor matematika dari Universiteit Twente, Belanda, dan kini mengajar di Nottingham, Inggris.

Lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Hadi mencecap pendidikan di SDN Kunir Lor 1, SMPN Kunir, dan SMAN 2 Lumajang. Saat di bangku SD, ia selalu terpilih sebagai wakil sekolah dalam lomba cerdas cermat di tingkat kabupaten. Anehnya, begitu bertanding nilainya hampir selalu nol. “Saya selalu grogi melihat anak dari sekolah lain yang selalu tampak keren dan bergaya,” katanya.

Kini dunia berbalik. Banyak yang “grogi” melihat prestasi mahasiswa terbaik ITB tahun 2000 yang juga aktif berkiprah di dunia sastra itu. “It is impossible to be a mathematician without being a poet in soul,” ungkapnya mengutip Sofia Vasilyevna Kovalevskaya (1850-1891), matematikawan-cum-penyair Rusia perumus teorema Cauchy-Kovalevsky.

Saat dikontak harian ini sebagai calon “Tamu” berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional, pada awalnya Hadi menolak. “Saya membaca wawancara Koran Tempo dengan Pak Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina–Red.) lewat kiriman e-mail seorang teman. Saya tak sebanding dengan Pak Anies untuk menjadi ‘Tamu’,” katanya dengan suara lembut di ujung saluran telepon internasional. Baca Lanjutannya…

Oleh: depuguh | Desember 20, 2009

Ridho; Penyandang Autisme, atau ADHD?*

Seperti yang kuduga sebelumnya, bahwa hari Sabtu ini, banyak murid-murid kami yang tidak masuk. Sebagian besar anak-anak –terutama orang tua mereka memilih tidak menyekolahkan anaknya, karena hari ini adalah hari “kecepit”. Nanggung kalau masuk. Tapi, tidak bagi orang tua Ridho. Orang tua anak tersebut tetap menyekolahkan anak yang paling disayanginya.

Hampir saya membuat kesimpulan yang salah, bahwa hari ini kelas saya akan kosong melompong. Bangku-bangku jadi tak bertuan, namun setelah sepuluh menit bel berbunyi, ia datang. Jadilah ia satu-satunya murid saya yang hadir. Seperti biasanya, ia berlarian mengucapkan salam sambil mencium tanganku, kemudian ia masuk ke kelas. Ia tanya satu-persatu teman-temannya. Anak itu mungkin berpikir, “kenapa hari ini kok teman-temannya tidak ada?,”. “Pak, mana Siti?, Pak mana Uus?,” tanyanya singkat. Saya hanya menjawab, “Siti dan Uus tidak masuk.” Baca Lanjutannya…

Danladi Mamman **

girl negeriaEarly marriage is more common in the northern parts of Nigeria. Here, many parents prefer to marry off their daughters at a very young age, for cultural and economic reasons. The rate of illiteracy among females is higher here than in the south. Recent studies have highlighted improved primary and secondary enrolment rates for girls. Girls who have dropped out of school, or not been enrolled in the first place, are likely to be pushed into early marriage. Marriage usually prevents them from starting or resuming their education.

Response to the problem

In recent years, states in northern Nigeria, such as Niger and Bauchi states, have enacted laws prohibiting the withdrawal of girls from school for marriage, but this is not being enforced. The Federal Government of Nigeria and the 19 Northern States Government have introduced initiatives to tackle early marriage and its impact on education (e.g.public sensitisation on girls’ reproductive health and rights and the importance of allowing girls to complete senior secondary school; strengthening links between schools and communities to improve girls’ retention in school; changing girls’ attitudes towards education; and establishing more schools for females only). Some initiatives have yielded positive results: married girls/single mothers who had dropped out have restarted school, and parents have started to allow girls to complete senior secondary school before marriage and even proceed to higher education. The Child Rights Act was enacted in 2003 by the Federal Government and many state governments are following suit. It states that every child, irrespective of gender and disability among others, has the right to good quality education and to complete his/her education. The Universal Basic Education programme was also established, providing for nine years of compulsory education. All levels of government and some non-governmental organisations are taking steps to address early marriage and encourage children to complete school. This includes the re-establishment of guidance and creation of gender sensitive curricula, making school environments conducive for learning, and involving communities and traditional rulers in Baca Lanjutannya…

Oleh: depuguh | November 9, 2009

Semarak Olimpiade dan Science Expo 2009

n1818218901_4733Alhamdulillah!. Lega rasanya. Itulah sebuah perasaan yang saya ucapkan dalam hati. Dengan segala keterbatasan, dan kekurangan di sana-sini, akhirnya perhelatan Olimpiade dan Science Expo 2009 dapat selesai dengan sukses :) . Yayasan Pengembagan SDM IPTEK sebagai penyelenggara utama telah berusaha memberikan kontribusi secara optimal dalam dunia pendidikan, science dan sosial. Olimpiade dan Science Expo merupakan salah satu bentuk kontribusi tersebut.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori