Oleh: depuguh | Januari 7, 2012

Ahmad Subagio: Mengembalikan Kejayaan Singkong

“Kesannya selama ini, kalau orang sampai makan gaplek itu kok miskin banget,”
(Ahmad Subagio, M.Agr., Ph.D)

Indonesia merupakan produsen ketela atau singkong terbesar ke lima di dunia. Sayangnya, di Indonesia sendiri singkong belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Masyarakat kita masih memanfatkan ketela untuk sumber pangan alternatif menggantikan
beras. Disamping itu, Singkong masih identik dengan makanan kelas dua. Di era semaju ini, bila masih dijumpai orang makan singkong, berarti orang tersebut “primitif” atau “miskin”. Stereotip negatif tersebut masih begitu melekat.

Dr Ahmad Subagio mencoba merubah stereotip tersebut. Mulai tahun 2004, Ahmad Subagio snagat intens meneliti singkong. Meski sering mendapatkan cibiran dari orang lain, ia masih percaya diri dengan menjadikan produk panganan yang tidak popular tersebut menjadi obyek kajianya. Menurut Subagio, kebanyakan orang memandang, bahwa singkong mempunyai nilai jual yang rendah. Meneliti singkong sama saja dengan membuang-buang waktu, jadi menurut banyak anggapan orang, apa yang ia kerjakanan saat ini hanyalah akan sia-sia belaka. Bahkan tidak hanya itu saja, seorang calon presiden Indonesia pun pernah mencibirnya.

Kegigihan Ahmad Subagio membuahkan hasil. Setelah sekian lama meneliti singkong, akhirnya Ahmad Subagio berhasil membuat modifikasi singkong menjadi sebuah tepung tanpa aroma dan rasa singkong. Tepung tersebut ia namai dengan Mocaf (Modified Cassava Flour). Hasil penemuanya ini diyakini merupakan penemuan pertama di dunia. Ahmad Subagiopun mulai dikenal banyak orang. Dan masyarakat tidak lagi memandang sebela mata singkong. Baca Lanjutannya…

Oleh: depuguh | Januari 7, 2012

Sebuah Makna Inklusif

Kita sebagai seorang pendidik seringkali kurang menyadari akan akibat dari kata-kata yang kita berikan kepada anak-anak didik kita. Seringkali kita memberikan predikat negatif kepada mereka dengan sebutan, “murid bodoh, nakal” dan sebagainya. Akibat dari stereotip negatif tersebut, akhirnya anak didik kita benar-benar menjadi bodoh dan nakal.

Parahnya, ketika mereka sampai di rumah, mereka mendapatkan perlakuan yang sama dari orang tua mereka. Anak-anak yang mendapatkan cap yang buruk tersebut menjadi minder, kehilangan motivasi, terkadang hal ini membuat mereka terisolasi dan terpinggirkan. Baca Lanjutannya…

Oleh: depuguh | Juni 24, 2011

Cinta, Makna dan Pengajaran

(Sebuah refleksi menyambut hari pendidikan)

Para analisis telah memprediksi, bahwa suatu saat nanti dunia akan menjadi sebuah perkampungan global. Ternyata hasil analisis mereka benar adanya. Kemampuan transportasi, komunikasi melebihi prediksi banyak orang. Manusia dengan mudah menjalankan komunikasi, berpindah tempat, hingga menggerakan dunia bisnis. Pendek kata, perkampungan global membuat semuanya menjadi serba instan. Dan kita tahu, perkampungan global lahir dari rahim globalisasi.

Perkampungan global telah menjamah dunia anak-anak –seperti, sekolah tempat mereka belajar. Anak-anak kita sudah terbiasa dengan telepon genggam. Mereka juga mempunyai kecenderungan lebih suka belajar dengan TV daripada dengan gurunya. Lebih miris lagi, sebagian dari anak-anak kita telah memanfaatkan teknologi, seperti situs jejaring sosial untuk menjalankan bisnis prostitusi.

Sekolah telah menjadi perkampungan global. Kondisi ini membawa ketakutan yang tersendiri bagi para pendidik -terutama terhadap masa depan mereka. Kita sebagai pendidik dibuat was-was. Tidak berhenti di situ. Para pendidik semakin dibuat naik adrenalinnya dengan tuntutan dan ekspektasi yang besar dari masyarakat dan pemerintah melalui proyeknya yang bernama UNAS.

Duapuluh tahun yang lalu, para orang tua di Amerika ketika ditanya tentang harapan mereka terhadap anak-anak mereka, mayoritas mereka menjawab ingin sekali mereka mempunyai anak-anak dengan kemampuan yang baik dalam bidang logika-ilmiah (Matematika, Fisika dan Biologi). Namun setelah sepuluh tahun, ketika di Amerika merebak kejahatan para remaja, seperti tawuran, pembunuhan antar teman di kampus dan hamil diluar nikah, para orang tua akhirnya berpikir ulang tentang masa depan buah hati mereka. Saat ini, mereka hanya ingin anak-anaknya bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Baca Lanjutannya…

Added Jan 6, 2010, Under: Opini

2 Mei 2011, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Dari Swiss, DJOKO SUSILO, Dubes RI yang juga mantan wartawan Jawa Pos, menuliskan bagaimana negeri maju itu mengelola pendidikannya sehingga mencapai kualitas dunia. Tulisan ini semoga memberikan inspirasi.

Ketika tiba di Swiss tahun lalu, saya terheran-heran ketika mendapatkan informasi bahwa di negeri tempat saya bertugas (sebagai duta besar RI) ini tidak terdapat seorang Mendiknas (menteri pendidikan nasional) dan sekaligus jajaran Kementerian Pendidikan Nasional.

Berarti juga tidak ada birokrat yang ’’melayani’’ dunia pendidikan. Namun, bagaimana Swiss bisa memiliki
sistem pendidikan yang sangat hebat, berkelas dunia yang universitasnya sangat sering menghasilkan pemenang nobel? Apalagi biayanya sangat murah meriah.
Setiap orang Swiss atau siapa pun yang tinggal di Swiss, termasuk orang asing, bisa mengikuti pendidikan dasar gratis, mulai SD, SMP, hingga SMA.Itu merupakan pendidikan wajib. Jadi, tidak ada ceritanya tak ada anak Swiss yang tidak bersekolah. Memang, jalannya pendidikan dilaksanakan dalam tiga bahasa, bergantung pada kanton (semacam negara bagian), yakni Prancis, Jerman, dan Italia.

Jika seseorang berhasil menamatkan SMA, saat mau masuk universitas pun, asal cukup pintar, ongkosnya tidak akan mencekik leher orang tua yang berpenghasilan paling rendah. Bayangkan, UMR di Swiss sekitar 3.000 CHF (franc Swiss) per bulan (Satu CHF setara Rp 9.826). Dengan UMR 3.000 CHF, biaya kuliah S-1 (strata 1) satu semester hanya sekitar 600 CHF atau rata-rata hanya 100 CHF per bulan.
Itu berarti biaya kuliah per bulan setara dengan sepertigapuluh UMR. Orang paling miskin pun akan bisa bayar kuliah, bahkan mahasiswa yang be sangkutan bisa bayar sendiri dengan bekerja paro waktu di restoran cepat saji atau di perpustakaan sekolah. Baca Lanjutannya…

Oleh: depuguh | April 11, 2011

Anakku, Retardasi Mental (Bag 2 Habis)

Setelah kita mengenal sekilas anak dengan kekhususan retardasi mental, dalam artikel kedua ini, Saya akan memaparkan karakteristik beserta dampaknya bagi orang tua. Anak retardasi mental (masyarakat luas lebih sering menyebut istilah tersebut dengan tunagrahita) mempunyai beberapa karakteristik. Ada beberapa karakteristik umum yang dapat kita pelajari, sebagai berikut : Baca Lanjutannya…

Oleh: depuguh | April 11, 2011

Anakku, Retardasi Mental (Bag 1)

Tidak seperti hari-hari biasaya, Ibu Dyah hari ini lebih banyak termangu menatap lekat-lekat wajah putra pertamanya, Ilham yang sedang asyik bermain di teras depan rumah. Nampak di wajahnya tersimpan berbagai macam perasaan, sedih, khawatir, dan iba. Betapa tidak, diusianya yang menginjak sembilan tahun, Ilham putra pertamanya belum bisa membaca dan menulis. Tidak hanya itu saja, Ilham belum bisa mandiri seperti teman-teman sejawatnya di sebuah sekolah full day.

Hatinya semakin tersiksa melihat Ilham seringkali dijauhi oleh teman-temannya di sekolah. Gara-garanya Ilham tidak bisa diajak bermain. Tidak jarang, mereka memanggil Ilham dengan sebutan, Ilham si idiot. Ibu Dyah akhirnya membawa Ilham ke dokter spesialis tumbuh kembang anak. Sang dokter mendiagnosa Ilham dengan retardasi mental. Bu Dyah setengah mati tidak percaya. Sepulang dari dokter, bu Dyah langsung mencari pelbagai referensi yang berkaitan dengan retardasi mental. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.